Selasa, 06 Mei 2014

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah... akhirnya titik itu semakin terang, tetaplah berikhtiar.. Allah yang akan melihat usahamu.
Teruslah melangkah hingga lelah pun lelah mengejarmu. Bukankah segala hal yang kau terima dan alami hari ini bagian dari nikmat-Nya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Sudahkah kau bersyukur? Bahwa yang berhak pertama kali mendengar berita bahagiamu adalah Ia Yang Maha Kuasa  Allah SWT. Tetap semangat menggapai mimpimu satu per satu.

Senin, 05 Mei 2014

Kapan Mengucapkan "Subhanallah" dan "Masya Allah"?




Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah "Subhanallah" sering tertukar dengan ungkapan "Masya Allah". Ucapkan "Masya Allah" kalau kita merasa kagum. Ucapkan "Subhanallah" jika melihat keburukan!

SELAMA ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan  Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). 
Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “hal itu terjadi atas kehendak Allah”
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah
Artinya, “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.
Diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.
“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maasya Allah laa quwwata illa billah” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan SubhanAllah
Saat mendengar atau  melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: "Allah Mahasuci dari keburukan tersebut".
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Saw berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Saw. Beliau bersabd :‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasululla , aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub.  Rasulullah Saw bersabda:Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis” (HR. Tirmizi). “Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim.

Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: 
“Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik." (QS. 40-41).

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikatitu menjawab: “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. Saba’: 40-41).

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau (dari menciptakan hal yang sia-sia), maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran:109).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. 
Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Swt Mahasuci dari semua keburukan tersebut. Masya Allah  diucapkan bila seseorang melihat yang indah-indah. 

Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebalinya? Insya Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam.*
*Sumber : disini

Membaca ayat-ayat kauniyah-Nya

Burung-burung terbang tanpa ada yang menahannya berkelana di seantero langit
Langit biru tanpa tiang terhampar luas menyelimuti gunung
Gunung yang terpancang kokoh menjadi pasaknya bumi
Bumi dengan segala keindahan alamnya, hiruk pikuk dunia
Dunia, burung, langit, bumi yang kita huni sekarang ini, tahukah kau siapa yang menciptanya?
Ya, kau pasti tahu.. Dialah Allah SWT yang Mahamencipta
Mari belajar membaca ayat-ayat kauniyahnya yang bertebaran di alam semesta
Menikmati keindahan, sekaligus merenung dan memaknai bahwa ada Ia yang Maha Kuasa mencipta alam semesta..
Sudahkah kita mensyukurinya?
Alhamdulillah... Masya Allah... Semua terjadi atas kehendak-Nya..

@nikenharena

Minggu, 04 Mei 2014

Mengistimewakan Amal


Sebuah pesan yang ku dapat dari seorang ustadzah dalam suatu kajian. Bahwa ketika kita meng-istimewa-kan amalan kita, meski pun sebenarnya amalan tersebut sederhana dan siapa pun bisa melakukannya, maka akan ada banyak hal yang tak pernah kita duga yang akan menghampiri kita. Misalnya istighfar yang senantiasa kita lantunkan dalam tiap aktivitas kita. Tentunya amalan itu dikerjakan karena dan hanya untuk Allah SWT saja, bukan karena ingin dilihat manusia.
 
Seperti Kisah Seorang Imam dengan Pembuat Roti berikut ini:
Ini adalah kisah Imam Ahmad bin Hanbal, murid kesayangan Imam Syafi’i Rahimahullah. Suatu ketika Ia melakukan perjalanan. Sampai pada satu daerah, Ia mencari masjid sebagai tempat peristirahatan. Ketika didapatinya sebuah masjid, Ia pun memasukinya. Namun, penjaga masjid yang tidak kenal dengan Imam Ahmad bin Hanbal ini mengusirnya. “Ijinkan saya istirahat di pintu masjid” Ia berkata kepada si penjaga masjid. Tetap saja penjaga ini tak membolehkan. Lalu datang Khabbas, seorang tukang roti, dan mengajak Imam Ahmad untuk istirahat di rumahnya. Khabbas juga tak tahu bahwa Ia adalah Ulama’ besar, Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika telah sampai di rumahnya, Khabbas pun memulai pekerjaannya, membuat roti. Imam Ahmad tertegun ketika melihat dan mendengar si tukang roti ini membuat roti sambil beristighfar. Lalu Ia pun bertanya: “sejak kapan anda melakukan hal seperti ini?”. Tukang roti menjawab: “sudah sejak dulu saya melakukan ini”. Imam Ahmad kembali bertanya: “apa faedah yang anda dapat dengan melakukan hal seperti ini?”. “Semua keinginan saya alhamdulillah dapat terpenuhi” kata tukang roti. “Ada satu yang belum terpenuhi” tambah Khabbas si pembuat roti. “Apa itu” tanya Imam Ahmad. Orang itu pun menjawab: “telah lama saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal”. Imam Ahmad pun kaget dan mengatakan, “sekarang Allah telah mengabulkan keinginan anda, sayalah Ahmad bin Hanbal. Allah telah menarik saya sampai ke tempat ini untuk anda.”
Dari kisah tersebut, ada pelajaran atau hikmah yang dapat diambil, yaitu keutamaan istighfar. Tukang pembuat roti dapat terpenuhi keinginannya karena rajin baca istighfar.
Islam merupakan agama yang menganjurkan ummatnya untuk bertaubat. Istighfar dapat menjadi kalimatnya. Bahkan Rasulullah yang maksum (bebas dari dosa) saja bertaubat dengan istighfar sebanyak 70, atau ada yang menyebutkan 100 kali dalam satu hari. Karena Allah sangat senang dengan hambanya yang bertaubat. Bahkan para Ulama’ mengatakan, ada satu ayat dalam Al Qur’an yang sangat menyenangkan, membuat manusia roja’ (mempunyai harapan), tidak membuat manusia putus asa, yaitu surat Az Zumar ayat 53:
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mari belajar tuk mulai mengistimewakan amalan kita. Barangkali amal itulah yang bisa membawa kita menuju surga-Nya. Semoga kita semua kelak meninggal dalam keadaan dengan khusnul khatimah, aamiin.

Semoga bermanfaat.. :)

Sumber: disini

Jumat, 02 Mei 2014

Untukmu Para Remaja



Cinta

rasa itu datang menyapa
pada anak manusia
kala remaja

menggelitik
menggetarkan jiwa
menyita waktu
teringat ia selalu

diam-diam mata mencari
namun tertunduk, kala berjumpa
malu

kala orang lain memilih duduk bersama
kau tetap pada prinsipmu
kau redam besarnya rindu
dalam panjang sujudmu
kau memang merindunya
namun kerinduanmu padanya
tak kau biarkan melebihi rindumu pada-Nya

katamu rasa itu fitrah manusia
yang harus dijaga kesuciannya
sampai tiba masanya
takdir Tuhan kan menyapa
itulah arti cinta yang sesungguhnya

Niken Harena (Semarang, 6-1-2014)

Selasa, 29 April 2014

Kasih Ibu


Ia laksana air, memberi kesegarkan kala dahaga mendera

Ia laksana api, memberi kehangatan pada tubuh yang kedinginan

Ia laksana mentari, memberi terang kala diri dilanda gelap gulita

Ia laksana embun pagi, memberi kesejukan pada gersangnya hati
Ia adalah kasih seorang Ibu

***

Semarang, 30 April 2014 
(06:11 WIB)

Jumat, 25 April 2014

Percaya akan Keajaiban-Nya

Bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Jika Ia menghendaki suatu hal terjadi, maka terjadilah.
Tak peduli seberapa rumitnya hal tersebut menurut pandangan manusia, namun jika Ia menghendaki, pastilah terjadi. Manusia hanya bisa berdo'a pada-Nya, meminta dengan sepenuh jiwa, disertai segala daya dan upaya meperjuangkan apa yang menjadi harapannya, cita-citanya. Jika tongkat nabi Musa as, tetiba berubah menjadi ular atas izin-Nya, maka tak ada yang tak mungkin jika Allah SWT akan mengabulkan apa yang menja di do'a-do'a hamba-Nya. Ya, aku percaya keajaiban itu ada.Hal yang harus dilakukan adalah tawakal kepada-Nya, setelah usaha terbaik dan do'a dilantunkan.

@nikenharena