Selasa, 03 Februari 2015

Setapak Jejak Karyaku di 2014 :)

Alhamdulillah di tahun 2014 kemarin sudah ada lima karyaku hasil mengikuti event bersama teman-teman dalam grup menulis yang diterbitkan oleh penerbit minor (self publishing) dalam sebuah buku antologi. Empat diantaranya adalah puisi sedangkan satu buku berupa surat cinta untuk Ibu. Untuk cerpennya belum lolos, semoga di tahun 2015 ini bisa lolos terbit antologi cerpen dan tulisan inspirasi penerbit mayor. Aamiin. :)








Kamis, 08 Januari 2015

Semangat!


Seringkali ketika kita atau teman kita akan menghadapi sebuah ujian atau tantangan, kita mengucapkan kata favorit "semangat!" Sebuah kata sederhana namun memiliki energi yang luarbiasa.
Semangat bisa diartikan sebagai sebuah kemauan untuk berjuang. Berjuang dalam hal apa pun, tentunya yang positif.
Berjuang serdiri memiliki arti berusaha sekuat tenaga dalam memperjuangkan sesuatu. Seseorang yang memiliki semangat, berarti ia tengah menempatkan dirinya untuk berusaha sekuat tenaga dalam memperjuangkan sesuatu dan siap menghadapi tiap tantangan yang menghadang.

Semangat terbesar dapat kita peroleh dari dalam diri kita sendiri. Ketika kita telah memiliki tekad yang kuat dalam memperjuangkan sesuatu, maka ketika ada tantangan kita tak kan lari namun berusaha menghadapi dan mencari solusi. Sementara orang lain hanya bisa menambahi atau mengurangi kadar semangat kita.

Kadar semangat bisa bertambah ketika orang lain, katakanlah teman atau sahabat kita memberikan ucapan, ataupun kalimat-kalimat yang positif atas perjuangan yang tengah kita lakukan. Sebaliknya kadar semangat bisa saja berkurang ketika ada orang lain yang meremehkan perjuangan yang tengah kita lakukan.
Namun, yang dapat menentukan bertambah atau berkurangnya kadar semangat kita adalah diri kita sendiri.

Ketika kita mampu mempertahankan semangat kita pada kondisi yang baik dan stabil, maka kita akan lebih mudah dalam melanjutkan perjuangan.

Untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kadar semangat kita dalam berjuang, hendaknya kita senantiasa mengingat kembali tujuan serta langkah-langkah perjuangan yang telah kita tempuh. Karena tiap perjuangan terlalu sayang untuk ditinggalkan sebelum kita memperjuangkan hingga akhir. Hasil akhirnya kita serahkan pada Allah SWT. Yakinlah ketika kita sudah memberikan sebaik-baiknya usaha, maka hasil akhir tak kan menghianati usaha kita. Insya Allah.

Serta yang terpenting adalah hendaknya kita senantiasa bersyukur, berdoa dan berharap agar Allah SWT senantiasa membersamai langkah-langkah perjuangan kita. Karena yang kita peroleh saat ini sejatinya adalah atas karunia-Nya.

Dan ingatlah selalu kalimat motivasi:
"Man Jadda Wajada!"
"Barangsiapa bersungguh-sungguh, ia akan berhasil."

Semangat kawan!



Selasa, 06 Januari 2015

Liburanku



Apa yang terlintas dibenak kawan-kawan ketika mendengar kata liburan?
Senang, gembira, atau bahagia? (sama aja kali.. :D)

Barangkali sebagian besar dari kita merasa senang karena ada waktu untuk istirahat atau bersantai ria setelah padatnya agenda dihari-hari sebelumnya. Apalagi ketika waktu liburan sekolah tiba, bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, juga anggota keluarga yang bekerja sebagai guru, liburan sekolah adalah momen yang tepat untuk bersantai bersama keluarga. Meskipun yang terpenting adalah kebersamaan bukan dimana tempatnya kita berkumpul, namun tak ada salahnya jika kita mengisi liburan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat di tempat lain selain di rumah.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu liburan bersama keluarga. Diantaranya berkunjung ke rumah keluarga yang tempat tinggalnya cukup jauh dari rumah, misalnya rumah kakek dan nenek yang lingkungannya masih berupa alam yang asri, masak makanan kesukaan bersama-sama keluarga dan pergi berwisata ke tempat wisata yang belum pernah dikunjungi.
 
Yupz, ketiga hal tersebut yang saya dan keluarga lakukan untuk mengisi waktu liburan di tiga hari terakhir masa liburan.  Liburan sekolah kami isi dengan berkunjung ke rumah kakek dan nenek yang berada di Purworejo. Sepanjang perjalanan, gerimis rintik-rintik menemani perjalanan kami. Allhamdulillah, meskipun perjalanan jauh, keluarga kami berusaha menjaga agar dapat sholat di awal waktu. Sehingga kami sudah hafal, beberapa masjid dan mushola maupun pom bensin yang ada tempat shalatnya yang sering kami singgahi. Disalah satu pom yang kami kunjungi, kami sempat membeli Bakso Berkah Mas Gondrong, rasanya enak dan isinya cukup unik dan komplit, tidak seperti bakso-bakso biasanya. Tepat sebelum adzan maghrib berkumandang, kami tiba di rumah kakek dan nenek.

Sesampainya disana kami disambut dengan hangat oleh kakek dan nenek serta lingkungan rumah yang asri. Halaman rumah dipenuhi dengan tanaman-tanaman hijau berhiaskan warna-warni bunga, serta gemericik suara air sungai dari samping rumah menambah syahdu suasana yang membuat kami betah berlama-lama disana. Segelas teh panas ditemani sekeping gula kelapa asli, cukup memberi rasa hangat di sore hari yang dingin.

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami bersiap pergi bersilaturahmi ke tempat saudara yang tempat tinggalnya tak terlalu jauh dari rumah kakek dan nenek. Sepulang dari sana, kami menyempatkan diri untuk bersantai sejenak di alun-alun kota Purworejo, berbincang dan menikmati suasana serta membeli beberapa barang-barang keperluan, diantaranya minyak goreng dan lampu. Mengapa minyak goreng? Karena rencananya ibu, saya dan adik setelah ini akan membuat keripik talas. Mengapa lampu? Karena rencananya ayah akan mengganti lampu belakang rumah yang padam.

Sesampainya di rumah kakek dan nenek, kami langsung melanjutkan agenda yang telah direncanakan. Saya, Adik dan Ibu langsung menyiapkan alat dan bahan untuk membuat keripik talas.  Masing-masing dari kami mendapat tugas. Ibu bertugas mengupas, mencuci dan mengiris uni talas. Adik bertugas menyiapkan bumbu untuk memberi rasa asin dan gurih pada keripik talas yang akan kami buat. Sementara Saya bertugas untuk menggoreng keripik talas dan menjaga nyala api. Khusus untuk menyalakan api, saya dibantu Nenek. Kenapa nyala apinya harus dijaga? Karena di tempat Kakek dan Nenek masih menggunakan tungku api berbahan bakar kayu. Meskipun ada kompor gas, namun memasak menggunakan tungku memberi kesan tersendiri, diantaranya panas api menyebar secara merata dan masakan dapat matang secara sempurna.
Sementara kami para perempuan tengah sibuk di dapur, Ayah dan Kakek sibuk memasang beberapa lampu.
Mengganti lampu yang padam dengan lampu yang baru. Setelah sekitar satu jam berlalu, kami menikmati keripik talas yang telah matang ditemani dengan segelas teh panas.

Hari terakhir liburan, kami berencana pulang ke rumah yang di Batang. Di tengah perjalanan kami mampir ke Taman Kyai Langgeng yang ada di Magelang. Alhamdulillah tempatnya indah dan menyenangkan. Liburan sekolah kali ini, memberi kesan yang mendalam.

Minggu, 28 Desember 2014

Sejuta Ekspresi

Assalamu'alaikum .... 

Teman-teman, minta tolong bantu beri comment, like dan share ya ....

 buka link ini :)
Terima kasih ... :)

Wassalamu'alaikum ....

Senin, 22 Desember 2014

Ayah Terhebat



Gurat-gurat itu kini semakin nampak jelas diwajahnya
Menghias sudut-sudut mata
Membuat hati ini gerimis kala melihatnya

Namun  jangan tanya, semangat juangnya masih menyala-nyala
Aktif dalam tiap agenda organisasi
Juga interaksinya dengan manyarakat sekitar

Sejenak menengok ke belakang
Mengingat apa yang telah ia berikan untukku
Terlalu banyak, tak terhitung

Bercanda,  mengajakku membeli makanan kesukaan
Juga hal yang hingga kini tak terlewat
Mengajakku ke toko buku kala libur tiba

Sedari kecil ia selalu menemaniku
Rela mengantarku ke tempat yang kumau
Juga kala kuberangkat menuntut ilmu

Namun hingga kini belum banyak yang bisa kulakukan untuknya
Mungkin sekuku hitam pun tak ada
Hanya maaf dan doa yang selalu mengalir dari celah lisan

Semoga kelak kubisa membuatnya bahagia
Menjadi anak yang berguna bagi agama dan bangsa

Terima kasih Ayah terhebatku
Untuk tiap jasamu yang tak mungkin bisa kuhitung satu-satu

***
Oleh: Niken Harena
Semarang, 22 Desember 2014


Jumat, 07 November 2014

Sebuah Kata yang Hilang


Dipikiranku berlarian kata-kata
Berserak, tak teratur

Ingin kurangkai menjadi seikat puisi
Penuh makna, penuh arti

Namun, rasanya ada satu kata yang hilang
Entah bersembunyi dimana

Menghilang, tanpa bekas
Tak berjejak satu huruf pun

Aku terus mencari
Dimana ia bersembunyi?

Sebuah kata yang cukup mewakili

Tentang hangatnya sebuah kisah
Tentang berartinya sebuah langkah

Kucoba kembali  mencarinya
Hingga sampai di suatu tempat yang bernama hati

Ternyata disana ia bersembunyi
Sebuah kunci tuk membuka jalan kebahagiaan

Ya, kata itu bernama CINTA

Kita tak selalu bisa berbuat hal besar
Tapi kita bisa berbuat hal kecil dengan cinta yang besar

Smg, 081114 (12:36)




Sabtu, 01 November 2014

Hati yang Gerimis


Hari ini entah mengapa awan lembut kembali menyapa hatiku.
Tiba-tiba awan itu menitikkan butir-butir rasa yang membuat hatiku gerimis.
Ya, setelah mendengar kabar bahwa ia telah memantapkan pilihannya.

Aku tak bisa berbuat banyak untuk mencegah, setelah diskusi yang cukup panjang dengannya meski hanya lewat SMS. Berbagai pertimbangan dan saran kucoba tawarkan padanya. Namun ia tetap bergeming. Kokoh atas pilihannya. Sebagai seorang saudari yang baru tiga bulan mengenalnya, aku hanya bisa memberikan sedikit saran. Samudra sikapnya belum bisa kuselami untuk waktu yang sesingkat ini.

Pagi ini ia kembali menyambangiku. Dengan perkataan yang sangat pelan, ia kembali menyampaikan keputusannya padaku. Bahwa ia harus pergi siang ini juga. Ah, sebenarnya perpisahan ini tak perlu terjadi. Tapi mungkin ini telah menjadi takdir-Nya. Hanya saja, ada sedikit rasa yang tergores--merasa diri ini belum bisa menjadi saudari yang baik untuknya.

Sebelum perpisahan ini benar-benar terjadi, aku hanya berpesan padanya untuk menganggapku tetap sebagai saudari, yang kapan saja bisa ia kunjungi. Juga tentang sholat 5 waktu yang harus senantiasa kita jaga, sebagai bentuk taat pada-Nya. Dan terakhir, kita berjabat tangan. Merelakan segala khilaf yang mungkin telah terjadi selama kita berinteraksi, barangkali tanpa sadar telah menggores hati.

Terima kasih untuk kebersamaan yang singkat ini. Maafkan aku saudariku, semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu. Semoga kelak kita berjumpa dalam keadaan yang lebih baik dari saat ini.