Assalamu'alaikum ....
Teman-teman, minta tolong bantu beri comment, like dan share ya ....
buka link ini :)
Terima kasih ... :)
Wassalamu'alaikum ....
Kehidupan laksana puzzle, tersusun atas kepingan-kepingan yang saling melengkapi, yang gambar indahnya tak kan sempurna jika ada salah satu keping yang hilang.
Minggu, 28 Desember 2014
Senin, 22 Desember 2014
Ayah Terhebat
Gurat-gurat itu kini semakin nampak jelas diwajahnya
Menghias sudut-sudut mata
Membuat hati ini gerimis kala melihatnya
Namun jangan tanya, semangat juangnya masih menyala-nyala
Aktif dalam tiap agenda organisasi
Juga interaksinya dengan manyarakat sekitar
Sejenak menengok ke belakang
Mengingat apa yang telah ia berikan untukku
Terlalu banyak, tak terhitung
Bercanda, mengajakku membeli makanan kesukaan
Juga hal yang hingga kini tak terlewat
Mengajakku ke toko buku kala libur tiba
Sedari kecil ia selalu menemaniku
Rela mengantarku ke tempat yang kumau
Juga kala kuberangkat menuntut ilmu
Namun hingga kini belum banyak yang bisa kulakukan untuknya
Mungkin sekuku hitam pun tak ada
Hanya maaf dan doa yang selalu mengalir dari celah lisan
Semoga kelak kubisa membuatnya bahagia
Menjadi anak yang berguna bagi agama dan bangsa
Terima kasih Ayah terhebatku
Untuk tiap jasamu yang tak mungkin bisa kuhitung satu-satu
***
Oleh: Niken Harena
Semarang, 22 Desember 2014
Jumat, 07 November 2014
Sebuah Kata yang Hilang
Dipikiranku berlarian kata-kata
Berserak, tak teratur
Ingin kurangkai menjadi seikat puisi
Penuh makna, penuh arti
Namun, rasanya ada satu kata yang hilang
Entah bersembunyi dimana
Menghilang, tanpa bekas
Tak berjejak satu huruf pun
Aku terus mencari
Dimana ia bersembunyi?
Sebuah kata yang cukup mewakili
Tentang hangatnya sebuah kisah
Tentang berartinya sebuah langkah
Kucoba kembali mencarinya
Hingga sampai di suatu tempat yang bernama hati
Ternyata disana ia bersembunyi
Sebuah kunci tuk membuka jalan kebahagiaan
Ya, kata itu bernama CINTA
Kita tak selalu bisa berbuat hal besar
Tapi kita bisa berbuat hal kecil dengan cinta yang besar
Smg, 081114 (12:36)
Sabtu, 01 November 2014
Hati yang Gerimis
Hari ini entah mengapa awan lembut kembali menyapa hatiku.
Tiba-tiba awan itu menitikkan butir-butir rasa yang membuat hatiku gerimis.
Ya, setelah mendengar kabar bahwa ia telah memantapkan pilihannya.
Aku tak bisa berbuat banyak untuk mencegah, setelah diskusi yang cukup panjang dengannya meski hanya lewat SMS. Berbagai pertimbangan dan saran kucoba tawarkan padanya. Namun ia tetap bergeming. Kokoh atas pilihannya. Sebagai seorang saudari yang baru tiga bulan mengenalnya, aku hanya bisa memberikan sedikit saran. Samudra sikapnya belum bisa kuselami untuk waktu yang sesingkat ini.
Pagi ini ia kembali menyambangiku. Dengan perkataan yang sangat pelan, ia kembali menyampaikan keputusannya padaku. Bahwa ia harus pergi siang ini juga. Ah, sebenarnya perpisahan ini tak perlu terjadi. Tapi mungkin ini telah menjadi takdir-Nya. Hanya saja, ada sedikit rasa yang tergores--merasa diri ini belum bisa menjadi saudari yang baik untuknya.
Sebelum perpisahan ini benar-benar terjadi, aku hanya berpesan padanya untuk menganggapku tetap sebagai saudari, yang kapan saja bisa ia kunjungi. Juga tentang sholat 5 waktu yang harus senantiasa kita jaga, sebagai bentuk taat pada-Nya. Dan terakhir, kita berjabat tangan. Merelakan segala khilaf yang mungkin telah terjadi selama kita berinteraksi, barangkali tanpa sadar telah menggores hati.
Terima kasih untuk kebersamaan yang singkat ini. Maafkan aku saudariku, semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu. Semoga kelak kita berjumpa dalam keadaan yang lebih baik dari saat ini.
Rabu, 22 Oktober 2014
Hujan Dini Hari
Di keheningan malam, hujan datang menyapa bumi dan seisinya
Memberi kesejukan pada jiwa--jiwa yang rindu akan kesejukan
Tanda bahwa kemarau panjang kan segera berakhir
Hadirnya memberi pasokan sumber kehidupan bagi makhluk-makhluk-Nya
Menyemai siklus kehidupan baru
Terbayang sudah dipandangan
Tunas-tunas bermunculan
Bunga-bunga bermekaran
Juga kupu-kupu melintas, menghias alam semesta
Tanaman meranggas pada hutan-hutan kan segera tumbuh kembali
Memulai fase kehidupan baru yang selama ini dinanti
Juga para petani kan segera mengolah sawahnya kembali
Menyemai benih-benih padi
Merawatnya, hingga masa panen tiba
Menanti sebutir nasi untuk umat manusia
Kesyukuran harus senantiasa dipanjatkan
Untuk-Nya Maha Pencipta
***
Smg, 231014 (01.18)
Selasa, 21 Oktober 2014
Rindu Ilalang
-Rindu Ilalang-
(Hujan sore hari, 20 Okt 14)
Berbulan-bulan ilalang menanti hadirnya.
Namun apa daya tak ada kabar tak ada tanda-tanda. Mentari bersinar dengan hangatnya. Angin masih bertiup seperti biasa. Juga awan yang masih teduh dan setia menaungi semesta
Namun ilalang tetap menanti, pasti ia kan menyapanya suatu saat nanti. Berbekal keyakinan pada Illahi Robbi. Suatu saat hadirnya kan mengakhiri gersangnya kemarau panjang ini.
Sore ini, tak ada tanda-tanda ia kan tiba
Tanpa angin kencang, tanpa suara guruh menggelegar, juga sinar mentari yang masih bersinar dengan teriknya. Tetiba yang dinanti datang menyapa, walau hanya sebentar saja. Lima menit lamanya.
Bagi ilalang itu tak mengapa. Baginya itu lebih dari cukup tuk menghapus gersangnya jiwa di kemarau panjang kali ini. Membawa kesejukan, menjawab rindu dihatinya. Alhamdulillah, takdir Tuhan menyapa, perkenankan ilalang berjumpa dengan hujan.
(Hujan sore hari, 20 Okt 14)
Berbulan-bulan ilalang menanti hadirnya.
Namun apa daya tak ada kabar tak ada tanda-tanda. Mentari bersinar dengan hangatnya. Angin masih bertiup seperti biasa. Juga awan yang masih teduh dan setia menaungi semesta
Namun ilalang tetap menanti, pasti ia kan menyapanya suatu saat nanti. Berbekal keyakinan pada Illahi Robbi. Suatu saat hadirnya kan mengakhiri gersangnya kemarau panjang ini.
Sore ini, tak ada tanda-tanda ia kan tiba
Tanpa angin kencang, tanpa suara guruh menggelegar, juga sinar mentari yang masih bersinar dengan teriknya. Tetiba yang dinanti datang menyapa, walau hanya sebentar saja. Lima menit lamanya.
Bagi ilalang itu tak mengapa. Baginya itu lebih dari cukup tuk menghapus gersangnya jiwa di kemarau panjang kali ini. Membawa kesejukan, menjawab rindu dihatinya. Alhamdulillah, takdir Tuhan menyapa, perkenankan ilalang berjumpa dengan hujan.
Rabu, 15 Oktober 2014
Menanam Benih-Benih Kebaikan
Hidup di dunia ini hanya sementara.
Ibarat kata hanya tempat pemberhentian dalam sebuah perjalanan.
Dalam pepatah Jawa disampaikan bahwa:
"urip ning donya iku mung mampir ngombe" atau dalam bahasa Indonesianya
"hidup di dunia ini hanya untuk mampir minum".
Maksud dari pepatah atau ungkapan tersebut adalah hidup di dunia ini hanya sementara.
Di pemberhentian yang sementara ini kita harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal untuk perjalanan selanjutnya, yaitu kehidupan yang kekal di akhirat kelak.
Bekal apa yang harus kita kumpulkan?
Bekal terpenting yang harus bawa adalah keimanan dan amal kebaikan kita.
Adanya keimanan kepada Allah SWT di kehidupan yang sementara ini maka kita akan berjalan sesuai dengan perintah-Nya. Menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Diantaranya dengan senantiasa melakukan ibadah dan berbuat kebaikan.
Kewajiban seorang manusia hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Seperti yang telah difirmankan Allah dalam QS. Adz-Dzariat ayat 56, yang artinya:
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
Tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibadah-ibadah yang harus dijalankan adalah ibadah yang bersumber pada Al-Qur'an dan Ash-Shunah. Ibadah yang kita lakukan diantaranya ibadah wajib dan ibadah sunah yang pelaksanaannya harus sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Di dunia yang sementara ini kita harus banyak menanam benih-benih kebaikan, yaitu dengan berbuat baik kepada sesama, memperbanyak sedekah, melakukan hal-hal yang bermanfaat. Meskipun kadang hasilnya tak bisa kita nikmati sekarang, semoga kelak di surga-Nya kita bisa memanen benih-benih kebaikan yang telah kita tanam di dunia. Aamiin.Wallahu a'lam bish-shawab
Langganan:
Postingan (Atom)
About |
Blog List |
